SUNGAI PENUH – Di saat Pemerintah Kota Sungai Penuh memperluas Gerakan Penanaman Padi ke seluruh kecamatan sebagai bagian dari agenda ketahanan pangan, fakta di lapangan menunjukkan ironi yang tak bisa diabaikan. Lebih dari seribu hektare sawah justru belum bisa ditanami akibat dampak banjir yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kota Sungai Penuh (DTPHP) mencatat, dari total 3.507,4 hektare lahan baku sawah, sekitar 1.470 hektare hingga kini masih dalam kondisi tidak produktif. Lahan tersebut tergenang air dan belum pulih sejak banjir besar yang melanda wilayah Sungai Penuh pada 2023.
Kepala DTPHP Kota Sungai Penuh, Suarman, menyebutkan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya meningkatkan produksi padi daerah. Sebagian besar sawah yang terdampak berada di kawasan kiri dan kanan jembatan layang, wilayah yang secara struktur lahan membutuhkan penanganan teknis khusus.
“Lahan itu tidak bisa ditanami karena masih tergenang. Kalau dipaksakan, justru merugikan petani,” ujar Suarman.
Pemerintah daerah sebenarnya telah merancang langkah normalisasi, termasuk perbaikan saluran air dan pemulihan fungsi lahan sawah. Namun hingga kini, rencana tersebut belum sepenuhnya berjalan karena masih menunggu kepastian dukungan anggaran.
Di tengah keterbatasan tersebut, Pemkot Sungai Penuh tetap berupaya menjaga keberlangsungan sektor pertanian dengan mendorong optimalisasi lahan yang masih bisa digarap. Apalagi, pada 2026 pemerintah pusat mewajibkan setiap desa memanfaatkan minimal satu hektare lahan pertanian melalui skema Anggaran Dana Desa (ADD) untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Program pusat ini menjadi peluang. Sungai Penuh punya sejarah panjang sebagai penghasil padi berkualitas di Sumatera,” kata Suarman.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan instruksi penanaman. Pemulihan lahan rusak akibat bencana menjadi pekerjaan rumah utama yang menentukan masa depan produksi padi lokal.
DTPHP pun mengimbau petani untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian, melaporkan kendala di lapangan, serta tidak memaksakan tanam di lahan yang belum siap. Tanpa penanganan struktural terhadap lahan terdampak banjir, ambisi memperluas tanam padi dikhawatirkan hanya akan menjadi target di atas kertas.(*)
Add new comment