Rumah Jambi di Mesir; Alasan atau warisan?

Oleh: jambi1
Pada : WIB
Rubrik
Opini
IST

Oleh : Fajri Al Mughni

Di sebuah negeri jauh bernama Mesir, berdirilah sebuah rumah yang tidak sekadar bertembok bata dan beratap langit Kairo. Ia adalah rumah rindu.

Rumah pulang bagi anak-anak Jambi yang menuntut ilmu, yang kerap menggenggam paspor lebih erat daripada dompet, dan menggantungkan harap pada doa orang-orang kampung halaman.

Rumah itu diberi nama DAHA. Singkatan dari Darul Hasan. Sebuah nama yang tidak jatuh dari langit, tidak pula lahir dari rapat singkat penuh basa-basi.

Ia dinisbahkan kepada Hasan Basri Agus (HBA), sebuah penanda bahwa dalam sejarah, ada pemimpin yang memilih meninggalkan jejak, bukan sekadar jabatan.

Pak HBA, dengan segala perjuangan dan berlapis-lapis birokrasi yang harus ditembus, membuktikan satu hal sederhana namun mahal: jika ada kehendak, aturan akan dicari jalannya.

Jika Pak HBA kala itu tidak menginginkan rumah Jambi berdiri di Mesir, barangkali sampai hari ini anak-anak Jambi tak punya tempat menyatukan rindu. Tanggung masing-masing rindu mu.

DAHA akhirnya berdiri. Ia menjadi saksi bahwa kepemimpinan bukan soal banyaknya alasan, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab.

Rumah DAHA “warisan” Pak HBA hanya menampung untuk para penuntut ilmu yang putra.

Dan di sinilah satire itu mulai terasa perih.

Hari ini, ketika gagasan rumah untuk putri-putri Jambi di negeri para nabi kembali mengemuka, dengan janji se-manis madu dari gunung, yang terdengar justru bukan tekad, melainkan seribu alasan.

Aturan itu seperti kitab suci yang tak boleh diusik, padahal dulu aturan yang sama bisa diajak berdialog. Birokrasi kini menjadi tameng, bukan lagi jembatan.

Aneh memang. Aturan yang dulu lentur demi kepentingan anak daerah, kini terasa kaku justru ketika yang diperjuangkan adalah keselamatan dan masa depan putri-putri Jambi.

Seolah-olah kepemimpinan hari ini lebih pandai menjaga kalimat “tidak bisa” daripada merawat keberanian untuk mencoba.

Padahal sejarah telah mencatat: rumah itu bisa ada. DAHA adalah bukti hidup bahwa “tidak mungkin” sering kali hanyalah kata lain dari “tidak mau”.

Maka DAHA di Mesir kini bukan sekadar rumah. Ia telah menjelma menjadi cermin. Cermin yang diam-diam bertanya kepada para pemimpin setelahnya:
Apakah kalian ingin dikenang lewat alasan, atau lewat warisan?

Karena rumah boleh saja bernama Darul Hasan,
tetapi sesungguhnya ia berdiri di atas satu fondasi yang lebih besar:

Yaitu keberpihakan seorang pemimpin kepada anak-anak daerahnya.

Salam rindu dari mahasiswa Jambi di Mesir untuk pemimpin negerinya.

Comments

Permalink

Betul monumen yg bersejarsh kni, perlu menjadi Perhatian Pemerintah yg kondisinya skrg, tetap perlu mendapat Perhatian dan Perawatan dari Pemimpin di daerah Jambi, Asrama itu terketak pd lokasi yg strategis di Mesir, karena saya pernah ke-sana bersama Pak HBA, suatu monumen bagi masyarakat Provinsi Jambi, ttg Pentingnya Pendidikan Agama di Negeri para Nabi, kita minta Asrama ini tetap menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jambi.

Permalink

alhamdulillah, sy sdh pernah menginap satu malam disana, tahun 2017

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

BeritaSatu Network