Ruang Rindu Menurut Rasulullah ﷺ: Ketika Iman Menjadi Arah Hati

Oleh: jambi1
Pada : WIB
Rubrik
Opini
IST

Rindu Yang Dirawat Dengan Iman Akan Melahirkan Akhlak

Oleh : Dr. Jamilah.M.Pd

Dosen UIN STS Jambi

ISMI Prov. Jambi

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba instan, manusia kerap dipenuhi berbagai rasa rindu. Rindu kepada keluarga, rindu pada masa lalu, rindu pada ketenangan, bahkan rindu pada makna hidup yang terasa kian menipis. Namun, di antara sekian banyak bentuk rindu itu, Islam mengenalkan satu rindu yang paling luhur dan memuliakan manusia: rindu yang berakar pada iman.

Rasulullah ﷺ tidak pernah memposisikan rindu sekadar sebagai emosi sentimental. Dalam ajaran beliau, rindu adalah kompas hati. Ke mana iman diarahkan, di sanalah rindu bersemayam. Rindu menjadi penanda siapa yang paling dicintai, nilai apa yang dijunjung, serta tujuan apa yang sedang diperjuangkan dalam hidup.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, namun menggugah kesadaran terdalam. Ia menegaskan bahwa cinta dan rindu bukan perkara netral. Keduanya menentukan arah kehidupan dan akhir perjalanan manusia. Apa yang kita rindukan hari ini, itulah yang perlahan membentuk karakter, pilihan, kebiasaan, bahkan nasib kita kelak.

Rindu sebagai Indikator Kualitas Iman

Dalam perspektif Rasulullah ﷺ, iman tidak berhenti pada pengakuan lisan. Iman hidup di dalam hati dan tercermin dalam sikap serta perilaku. Rindu menjadi salah satu indikator kualitas iman tersebut.

Beliau bersabda:

“Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Manisnya iman tidak hadir tanpa rindu. Rindu inilah yang membuat seseorang ringan bangun untuk shalat, lapang dalam bersedekah, sabar menghadapi ujian, dan berhati-hati menjaga lisannya. Tanpa rindu, iman mudah mengering; ibadah menjadi rutinitas administratif, bukan kebutuhan spiritual.

Secara edukatif, kita dapat bertanya pada diri sendiri:• Apakah kita merindukan waktu-waktu ibadah sebagaimana kita merindukan waktu istirahat?• Apakah hati kita lebih gelisah ketika tertinggal shalat, atau ketika tertinggal notifikasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk mengukur orientasi rindu kita.

Rindu yang Melahirkan Akhlak

Rasulullah ﷺ tidak pernah memisahkan iman dari akhlak. Beliau menegaskan:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

Rindu kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar pujian dalam shalawat, tetapi keteladanan dalam tindakan. Rindu yang sejati melahirkan kelembutan dalam berbicara, kejujuran dalam bermuamalah, kesabaran dalam konflik, dan kasih sayang dalam perbedaan.

Dalam kehidupan sosial, rindu yang berlandaskan iman melahirkan semangat silaturahim. Silaturahim bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan ruang keikhlasan: tempat memaafkan, menanggalkan ego, dan menjaga ukhuwah di tengah perbedaan pandangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa iman yang hidup tidak membiarkan rindu terkunci oleh amarah. Jika rindu kita kepada Allah dan Rasul-Nya benar, maka ego akan tunduk, dan hati terdorong untuk memperbaiki hubungan.

Rindu kepada Rasulullah ﷺ: Rindu yang Menghidupkan Harapan

Salah satu ungkapan Rasulullah ﷺ yang paling menyentuh tentang rindu adalah ketika beliau bersabda:

“Ada suatu kaum yang datang setelahku, salah seorang dari mereka lebih mencintaiku daripada keluarga dan hartanya, dan ia berharap dapat melihatku walau harus mengorbankan segalanya.”
(HR. Muslim)

Rindu ini adalah rindu lintas zaman, rindu umat yang tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ, namun mencintainya dengan tulus. Rindu seperti ini tidak melahirkan kekecewaan, melainkan harapan akan pertemuan di akhirat.

Bahkan dalam riwayat lain, beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku benar-benar rindu kepada saudara-saudaraku.”

Ketika para sahabat bertanya, “Bukankah kami saudara-saudaramu?”

Beliau menjawab, “Kalian sahabatku. Saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku dan belum pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)

Betapa agung kemuliaan itu. Rasulullah ﷺ merindukan umatnya yang hidup jauh setelah beliau wafat. Rindu ini seharusnya menjadi energi moral bagi kita untuk menjaga iman dan akhlak, agar layak disebut sebagai umat yang dirindukan.

Ruang Rindu dalam Kehidupan Modern

Di era digital, rindu sering diarahkan pada hal-hal yang semu: popularitas, validasi sosial, angka pengikut, atau kesenangan sesaat. Tanpa disadari, hati menjadi mudah gelisah, cepat lelah, dan sulit merasa cukup.

Islam menawarkan orientasi rindu yang lebih menenangkan: mengisi ruang rindu dengan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rindu yang sehat melahirkan hati yang kaya, tidak mudah iri, tidak haus pengakuan, dan tidak gelisah oleh perbandingan sosial. Rindu kepada Allah menumbuhkan ketenangan, karena sandarannya tidak berubah. Rindu kepada Rasulullah ﷺ mengarahkan hidup pada keteladanan, bukan sekadar pencapaian materi.

Secara praktis, ruang rindu dapat dirawat dengan:1. Membiasakan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an.2. Memperbanyak shalawat dan mempelajari sirah Nabi.3. Menghadiri majelis ilmu.4. Menguatkan silaturahim dan amal sosial.5. Mengurangi konsumsi hal-hal yang melemahkan spiritualitas.

Langkah-langkah ini bukan sekadar ritual, tetapi latihan hati agar rindu tetap terarah.

Merawat Ruang Rindu

Ruang rindu adalah ruang paling jujur dalam diri manusia. Di sanalah iman diuji, cinta dimurnikan, dan arah hidup ditentukan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa rindu yang paling mulia adalah rindu yang mengantarkan manusia kepada kebaikan, bukan sekadar kenangan.

Rindu yang dirawat dengan iman akan melahirkan akhlak, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menguatkan harapan akan pertemuan yang paling indah: bertemu Allah dan Rasul-Nya kelak.

Semoga rindu kita bukan rindu yang melemahkan,tetapi rindu yang menghidupkan,menjadi cahaya dalam perjalanan hidup, hingga akhirnya kita dikumpulkan bersama mereka yang kita cintai.

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

BeritaSatu Network