“Mari Kita Rawat Hati Agar Tetap Tulus, Karena Dari Sanalah Lahir Kebaikan Yang Sejati”
Oleh: Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd
Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi
“Sebarkanlah kebaikan di muka bumi ini, karena kebaikan yang dibagikan hari ini akan kembali sebagai ketenangan esok hari.”Kalimat sederhana ini sesungguhnya memuat pesan yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan manusia. Dalam dunia yang semakin cepat, kompetitif, dan sering kali keras, kebaikan justru menjadi kebutuhan yang paling mendasar namun kerap terabaikan. Padahal, dari hati yang tulus dan kebaikan yang konsisten, lahirlah kehidupan yang damai dan harmonis, baik bagi individu maupun masyarakat luas.
Kebaikan bukan sekadar tindakan moral, melainkan fondasi peradaban. Sejarah manusia menunjukkan bahwa kemajuan tanpa nilai kebaikan hanya melahirkan kekosongan, bahkan kehancuran. Sebaliknya, masyarakat yang menjadikan kebaikan sebagai orientasi hidup akan melahirkan ketenangan batin, solidaritas sosial, dan keberlanjutan kehidupan bersama.
Dalam perspektif Islam, kebaikan adalah inti dari ajaran agama. Allah SWT berulang kali menegaskan bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia. “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya” (QS. Az-Zalzalah: 7). Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa setiap niat baik, ucapan yang menenangkan, dan tindakan yang meringankan beban orang lain akan kembali kepada pelakunya, baik dalam bentuk ketenangan jiwa di dunia maupun pahala di akhirat.
Rasulullah SAW pun menempatkan kebaikan sebagai ukuran kemuliaan manusia. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadis ini menggeser cara pandang kita tentang kesuksesan. Kesuksesan bukan semata-mata tentang posisi atau harta, melainkan tentang sejauh mana kehadiran kita membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain.
Kebaikan yang dibagikan hari ini, sejatinya adalah investasi spiritual dan sosial. Dalam ilmu psikologi modern, konsep ini sejalan dengan temuan tentang well-being dan meaningful life. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang gemar berbagi, membantu, dan peduli terhadap sesama memiliki tingkat kebahagiaan dan ketenangan batin yang lebih tinggi. Kebaikan menumbuhkan rasa bermakna, mengurangi stres, dan memperkuat ikatan sosial. Dengan kata lain, kebaikan bukan hanya perintah agama, tetapi juga kebutuhan jiwa manusia.
Namun, kebaikan sejati tidak lahir dari pencitraan atau kepentingan sesaat. Ia tumbuh dari hati yang tulus. Ketulusan inilah yang membedakan kebaikan sebagai ibadah dengan kebaikan sebagai formalitas. Islam mengajarkan bahwa nilai amal bukan terletak pada besar kecilnya perbuatan, tetapi pada keikhlasan niatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hati yang tulus, lahirlah kebaikan yang menenangkan. Orang yang tulus berbuat baik tidak menuntut balasan manusia, tidak kecewa ketika tidak dihargai, dan tidak berhenti meskipun kebaikannya tidak dilihat. Ia meyakini bahwa Allah SWT Maha Mengetahui setiap amal, bahkan yang tersembunyi sekalipun. Inilah sumber ketenangan yang sejati: berbuat baik karena Allah, bukan karena pengakuan.
Dalam konteks kehidupan sosial, kebaikan yang tulus menjadi perekat masyarakat. Ia melahirkan empati, kepercayaan, dan solidaritas. Di tengah perbedaan pandangan, latar belakang, dan kepentingan, kebaikan menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani sekat-sekat sosial. Ketika kebaikan hadir, prasangka melemah dan rasa saling percaya menguat.
Islam tidak memandang kebaikan hanya dalam bentuk besar dan spektakuler. Senyum yang tulus, menyingkirkan duri dari jalan, mendengarkan keluh kesah orang lain, hingga mendoakan kebaikan bagi sesama, semuanya adalah bentuk kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya dengan wajah yang ramah” (HR. Muslim). Pesan ini menegaskan bahwa setiap orang, dalam kondisi apa pun, memiliki peluang untuk menebar kebaikan.
Kebaikan juga memiliki dimensi keberlanjutan. Ketika satu kebaikan dilakukan, ia sering kali memantik kebaikan lain. Orang yang menerima kebaikan cenderung terdorong untuk berbuat baik kepada orang lain. Inilah yang oleh para sosiolog disebut sebagai contagionof kindness, kebaikan yang menular. Dari satu hati yang tulus, kebaikan menjalar, membentuk ekosistem sosial yang sehat dan harmonis.
Dalam skala yang lebih luas, kebaikan adalah fondasi perdamaian. Konflik, kekerasan, dan perpecahan sering kali berakar dari hilangnya empati dan kepedulian. Ketika manusia sibuk dengan kepentingan diri sendiri, kebaikan tersingkir. Oleh karena itu, menyebarkan kebaikan bukanlah pilihan moral semata, tetapi kebutuhan peradaban. Dunia yang damai tidak dibangun hanya dengan regulasi dan kekuatan, melainkan dengan hati-hati yang dipenuhi kebaikan.
Sebagai umat beragama dan bagian dari bangsa yang beragam, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kebaikan di ruang-ruang kehidupan: keluarga, lingkungan, institusi, hingga ruang publik digital. Di era media sosial, kebaikan juga diuji. Apakah kita memilih menyebarkan empati atau justru memperbanyak caci maki? Apakah kita menghadirkan kesejukan atau menambah kegaduhan? Kebaikan hari ini tidak hanya diukur dari apa yang kita lakukan secara fisik, tetapi juga dari apa yang kita sebarkan melalui kata dan tulisan.
Pada akhirnya, kebaikan adalah jalan sunyi yang tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna. Ia mungkin tidak selalu terlihat, namun dampaknya nyata. Kebaikan yang dibagikan hari ini akan kembali sebagai ketenangan esok hari, ketenangan dalam hati, ketenteraman dalam hubungan sosial, dan harapan akan dunia yang lebih damai.
Mari kita rawat hati agar tetap tulus, karena dari sanalah lahir kebaikan yang sejati. Mari kita tebarkan kebaikan, bukan karena dunia memerintahkan, tetapi karena nurani dan iman memanggil. Sebab, hanya dengan kebaikanlah manusia menemukan kemuliaannya, dan hanya dengan kebaikanlah peradaban yang damai dan harmonis dapat tumbuh.
Referensi1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Az-Zalzalah: 7–8.2. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah: 261.3. Hadis Riwayat Ahmad: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”4. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”5. Hadis Riwayat Muslim: Larangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.6. Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bab Ikhlas dan Akhlak.7. Martin E. P. Seligman, Flourish (2011), tentang kebahagiaan dan makna hidup.
Add new comment