“Bagi Pendidik, Akademisi, Pemimpin, Dan Generasi Muda, Public Speaking Digital Adalah Sarana Untuk Menyebarkan Nilai, Ilmu, Dan Inspirasi”
Oleh : Dr. Jamilah
Dosen UIN STS Jambi
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita berkomunikasi di ruang publik. Jika dahulu public speaking identik dengan mimbar, aula, atau ruang pertemuan fisik, kini seni berbicara di depan publik telah bermigrasi ke ruang-ruang virtual: layar gawai, platform video konferensi, kanal YouTube, podcast, hingga media sosial. Perubahan ini menghadirkan peluang besar, sekaligus tantangan baru bagi siapa pun yang ingin menyampaikan gagasan secara efektif di era digital.
Public speaking di era digital tidak sekadar menuntut kemampuan berbicara dengan baik, tetapi juga kecakapan beradaptasi dengan teknologi, memahami karakter audiensdaring, serta mengelola pesan agar tetap bermakna meskipun disampaikan melalui medium yang terbatas secara fisik. Dalam konteks ini, public speaking menjadi perpaduan antara seni komunikasi, literasi digital, dan kepekaan sosial.
Perubahan Lanskap Public Speaking
Era digital telah menggeser pola komunikasi dari yang bersifat satu arah dan tatap muka menjadi lebih interaktif, cepat, dan tanpa batas ruang. Melalui platform seperti Zoom, YouTube, podcast, dan media sosial, seorang pembicara kini dapat menjangkau audiens lintas wilayah bahkan lintas negara. Namun, di sisi lain, perhatian audiens digital cenderung lebih singkat, mudah terdistraksi, dan kritis.
Kondisi ini menuntut pembicara untuk tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga cermat mengemas pesan. Public speakingdi ruang digital bukan soal berbicara panjang lebar, melainkan bagaimana menyampaikan pesan secara jelas, ringkas, dan relevan dengan kebutuhan audiens.
Memahami Audiens Digital
Langkah pertama dalam public speaking di era digital adalah memahami audiens. Audiens digital sangat beragam, baik dari sisi latar belakang, usia, tingkat literasi, maupun tujuan mengikuti suatu konten. Pembicara perlu menyadari bahwa audiens tidak selalu hadir secara penuh; mereka bisa keluar masuk, melakukan aktivitas lain, atau bahkan hanya mendengarkan sepintas.
Oleh karena itu, mengenali siapa audiens, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana kebiasaan mereka mengonsumsi konten menjadi kunci utama. Bahasa yang digunakan harus disesuaikan, tidak terlalu teknis, dan mudah dipahami. Pesan yang disampaikan sebaiknya langsung pada inti, tanpa bertele-tele.
Konten yang Jelas dan Relevan
Konten adalah ruh dari public speaking. Di era digital, konten yang baik adalah konten yang jelas, singkat, dan relevan. Audiens digital tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu pembicara “memanaskan” materi terlalu lama. Pembukaan yang kuat, pesan yang terstruktur, dan penutup yang mengesankan menjadi sangat penting.
Penyusunan konten juga harus mempertimbangkan medium yang digunakan. Konten untuk podcast tentu berbeda dengan konten video konferensi atau media sosial. Pembicara perlu memahami karakter masing-masing platform agar pesan dapat tersampaikan secara optimal.
Bahasa Sederhana dan Visual yang Mendukung
Penggunaan bahasa sederhana menjadi keharusan dalam publicspeaking digital. Bahasa yang terlalu akademis atau teknis berpotensi membuat audiens kehilangan minat. Kesederhanaan bahasa bukan berarti dangkal, tetapi justru menunjukkan kemampuan pembicara dalam menguasai materi dan menyampaikannya secara komunikatif.
Selain bahasa, visual memegang peranan penting. Gambar, grafik, video, atau slide presentasi yang menarik dapat membantu audiens memahami pesan dengan lebih baik. Visual bukan sekadar hiasan, melainkan alat bantu komunikasi yang memperkuat narasi.
Latihan dan Pemanfaatan Teknologi
Meskipun berbicara di depan kamera terasa lebih santai dibandingkan berbicara di depan audiens langsung, latihan tetap menjadi kunci keberhasilan. Latihan membantu pembicara mengatur intonasi, ekspresi, bahasa tubuh, serta alur penyampaian pesan.
Teknologi juga harus dimanfaatkan secara optimal. Slidepresentasi, video pendek, efek audio, hingga fitur interaktif seperti polling atau kolom chat dapat meningkatkan keterlibatan audiens. Namun, teknologi harus menjadi alat bantu, bukan justru mengalihkan fokus dari pesan utama.
Etika dan Kehadiran Digital
Salah satu tantangan public speaking di era digital adalah membangun kehadiran (presence) meskipun tidak berada dalam satu ruang fisik. Menjaga kontak mata melalui kamera, ekspresi wajah yang ramah, serta sikap yang profesional menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan dengan audiens.
Etika digital juga tidak boleh diabaikan. Cara menanggapi pertanyaan, menyikapi perbedaan pendapat, dan menjaga tutur kata di ruang publik digital mencerminkan integritas pembicara. Ruang digital bersifat terbuka dan jejaknya bersifat permanen, sehingga setiap ucapan perlu disampaikan dengan penuh tanggung jawab.
Platform Digital sebagai Ruang Baru Public Speaking
Beragam platform digital kini menjadi ruang baru bagi publicspeaking. Zoom dan platform video konferensi lainnya banyak digunakan untuk presentasi, kuliah umum, dan diskusi profesional. YouTube menjadi medium populer untuk berbagi gagasan secara visual dan berkelanjutan. Podcast menghadirkan ruang berbicara yang lebih intim dan reflektif. Sementara media sosial memungkinkan interaksi langsung dan cepat dengan audiens.
Setiap platform memiliki karakter dan etika tersendiri. Keberhasilan public speaking di era digital sangat ditentukan oleh kemampuan pembicara menyesuaikan gaya komunikasi dengan platform yang digunakan.
Public Speaking sebagai Literasi Abad ke-21
Di era digital, public speaking tidak lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan bagian dari literasi abad ke-21. Kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif, etis, dan persuasif menjadi modal penting dalam dunia pendidikan, profesi, dan kehidupan sosial.
Bagi pendidik, akademisi, pemimpin, dan generasi muda, publicspeaking digital adalah sarana untuk menyebarkan nilai, ilmu, dan inspirasi. Ketika dilakukan dengan kesadaran, persiapan, dan etika, public speaking mampu menjadi alat perubahan sosial yang kuat.
Public speaking di era digital adalah seni berbicara yang terus beradaptasi dengan zaman. Ia menuntut lebih dari sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga pemahaman audiens, kecakapan teknologi, kepekaan etika, dan kejelasan pesan. Di tengah banjir informasi dan distraksi digital, public speakingyang efektif justru menjadi semakin bernilai.
Mereka yang mampu berbicara dengan jernih di ruang digital tidak hanya akan didengar, tetapi juga dipercaya. Dan di sanalah public speaking menemukan peran strategisnya: menjembatani gagasan, membangun pemahaman, dan menghidupkan dialog di tengah masyarakat digital.
Referensi1. Lucas, S. E. (2020). The Art of Public Speaking. New York: McGraw-Hill Education.2. Gallo, C. (2014). Talk Like TED: The 9 Public-SpeakingSecrets of the World’s Top Minds. New York: St. Martin’sPress.3. Baran, S. J., & Davis, D. K. (2015). Mass CommunicationTheory: Foundations, Ferment, and Future. Boston: Cengage Learning.4. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2022). Literasi Digital Indonesia.
Add new comment