Kepemimpinan terbaik selalu berakar pada iman, akhlak, dan keberanian menegakkan kebenaran.
Oleh : Dr. FAHMI RASID (wo bujang)
Perwakilan ISMI Prov. JAMBI
KETIKA kepemimpinan sering kali diukur dari pencapaian material, kekuasaan politik, dan popularitas di ruang publik, sejarah Islam justru menawarkan cermin yang jernih tentang makna kepemimpinan yang sejati. Salah satu cermin itu dapat kita temukan pada kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang jejak kepemimpinannya masih terasa hingga hari ini. Salah satu penanda sejarah tersebut adalah Masjid Abi Bakr Ash-Shiddiq di kawasan Al-Musalla, Madinah.
Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah. Ia berdiri di lokasi di mana Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memimpin shalat Id, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Dari musalla terbuka itulah, nilai-nilai kepemimpinan Islam yang luhur dipraktikkan secara nyata: sederhana, membumi, dan sarat keteladanan. Di sinilah kita dapat memetik pelajaran penting tentang moral publik, sebuah konsep yang semakin langka di tengah krisis keteladanan kepemimpinan masa kini.
Kepemimpinan yang Berangkat dari Keteladanan
Abu Bakar Ash-Shiddiq bukanlah pemimpin yang membangun jarak antara dirinya dan umat. Ia tidak memimpin dari balik istana megah atau simbol-simbol kemewahan. Justru sebaliknya, ia hadir di tengah masyarakat, memimpin shalat, mendengar keluhan, dan menjadi teladan dalam akhlak. Kepemimpinan seperti inilah yang tercermin dari kisah musalla yang kemudian diabadikan menjadi masjid bersejarah.
Dalam konteks hari ini, keteladanan menjadi elemen paling krusial namun sering terabaikan. Banyak pemimpin pandai berbicara, menyusun visi, dan membuat slogan, tetapi gagal memberi contoh nyata. Abu Bakar mengajarkan bahwa kepemimpinan dimulai dari perbuatan, bukan dari retorika. Apa yang diucapkan harus sejalan dengan apa yang dilakukan.
Masjid sebagai Simbol Moral Publik
Masjid Abi Bakr Ash-Shiddiq bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga simbol moral publik. Dalam Islam, masjid bukan sekadar tempat ritual ibadah, melainkan pusat pembinaan nilai, etika, dan peradaban. Dari masjid, lahir pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Ketika Abu Bakar memimpin shalat Id di musalla terbuka, ia sejatinya sedang menegaskan bahwa kepemimpinan harus terbuka, dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh umat. Tidak ada ruang untuk kepemimpinan yang tertutup, apalagi manipulatif. Prinsip ini sangat relevan dengan tuntutan zaman sekarang, ketika masyarakat menuntut transparansi, akuntabilitas, dan integritas dari para pemimpinnya.
Kesederhanaan sebagai Kekuatan Moral.
Salah satu karakter utama Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah kesederhanaan. Meski menjabat sebagai kepala negara, ia tetap hidup apa adanya, bahkan pernah ditegur karena masih berdagang demi menghidupi keluarganya. Kesederhanaan ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral yang luar biasa.
Di era modern, kesederhanaan pemimpin sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan atau kurang prestisius. Padahal, justru dari kesederhanaan lahir kepercayaan publik. Pemimpin yang sederhana lebih mudah dipercaya, karena tidak memamerkan kekuasaan, tidak berjarak dengan rakyat, dan tidak sibuk membangun citra diri.
Masjid Abi Bakr Ash-Shiddiq yang dirawat lintas zaman, dari era Umayyah hingga pemerintahan modern Arab Saudi, menjadi simbol bahwa nilai kesederhanaan dan keteladanan selalu relevan, bahkan ketika zaman berubah.
Kepemimpinan Berbasis Nilai, Bukan Sekadar Kekuasaan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin dalam masa yang sangat genting. Sepeninggal Rasulullah ﷺ, umat Islam menghadapi perpecahan, kemurtadan, dan krisis legitimasi kepemimpinan. Namun Abu Bakar mampu menegakkan stabilitas bukan dengan kekerasan semata, melainkan dengan keteguhan nilai.
Pidato pertamanya sebagai khalifah menjadi rujukan klasik kepemimpinan etis: “ Jika aku benar, bantulah aku. Jika aku salah, luruskan aku.” Ini adalah pernyataan luar biasa tentang kerendahan hati dan kesadaran moral seorang pemimpin. Ia membuka ruang kritik, mengakui keterbatasan, dan menempatkan kebenaran di atas jabatan.
Bandingkan dengan sebagian pemimpin hari ini yang alergi terhadap kritik, mudah tersinggung, dan cenderung mempersonalisasi kekuasaan. Padahal, kepemimpinan sejati justru diuji oleh kemampuan menerima koreksi dan menjaga amanah publik.
Relevansi bagi Kepemimpinan Zaman Sekarang
Dalam konteks kekinian, baik di tingkat nasional maupun daerah, nilai-nilai kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi sangat relevan. Tantangan zaman memang berbeda, tetapi akar persoalannya sama: krisis integritas, menurunnya kepercayaan publik, dan melemahnya moral birokrasi.
Masjid dan musalla mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak boleh tercerabut dari nilai spiritual dan etika. Pemimpin yang rajin membangun infrastruktur tetapi abai pada pembangunan moral akan meninggalkan kekosongan makna. Sebaliknya, pemimpin yang menanamkan nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab akan dikenang, meskipun bangunan fisiknya sederhana.
Merawat Warisan, Menghidupkan Nilai.
Perawatan Masjid Abi Bakr Ash-Shiddiq dari masa ke masa, termasuk di era modern, menunjukkan kesadaran bahwa warisan sejarah bukan hanya untuk dilestarikan secara fisik, tetapi juga dihidupkan nilai-nilainya. Inilah tantangan terbesar kepemimpinan hari ini: bukan sekadar membangun simbol, tetapi menginternalisasi makna.
Kepemimpinan yang berangkat dari masjid dan musalla adalah kepemimpinan yang sadar akan pertanggungjawaban, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Kesadaran inilah yang melahirkan moral publik yang kuat dan berkelanjutan.
Point Penting.
Masjid, musalla, dan moral publik adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam sejarah kepemimpinan Islam. Melalui keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kita belajar bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang hadir di tengah umat, memimpin dengan hati, dan menjaga amanah dengan integritas.
Di tengah krisis kepemimpinan global hari ini, menimba etika dari sosok Abu Bakar bukanlah langkah mundur, melainkan lompatan moral ke depan. Sebab, hanya dengan kepemimpinan yang berakar pada nilai dan keteladanan, masa depan yang adil dan bermartabat dapat diwujudkan.
Add new comment