“Sering-sering Lah Mengucapkan Terima Kasih Kepada SiapapunYang Telah Berbuat Baik Kepada Kita” ; JUM’AT BERKAH.
Oleh : Dr. FAHMI RASID
ISMI PERWAKILAN JAMBI
Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh tuntutan, dan kerap menilai keberhasilan dari capaian-capaian yang kasat mata, ada satu ungkapan yang sering terdengar sederhana namun sesungguhnya menyimpan makna mendalam: TERIMA KASIH. Dua kata yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam nilai. Ia bukan sekadar tata krama, melainkan cerminan iman, adab, dan kedewasaan sebuah kepemimpinan.
Ucapan terima kasih adalah jembatan sunyi antara kekuasaan dan kemanusiaan. Ia menandai kesadaran bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir dari kerja seorang diri. Setiap prestasi selalu disertai keringat banyak orang, doa yang tak terdengar, dan kesabaran yang jarang disebutkan. Di sanalah terima kasih menemukan maknanya yang paling hakiki.
Terima Kasih sebagai Wujud Syukur kepada Tuhan
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, terima kasih tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari syukur. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menempatkan terima kasih sebagai jembatan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Syukur kepada Allah tidak sempurna jika tidak disertai penghargaan kepada manusia. Dengan kata lain, iman yang hidup akan tercermin dalam adab sosial.
Al-Qur’an menegaskan, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini sering dipahami dalam konteks personal, tetapi sesungguhnya memiliki dimensi sosial dan kenegaraan. Sebuah kepemimpinan yang bersyukur, yang ditunjukkan melalui penghargaan dan terima kasih, akan melahirkan keberkahan kolektif, berupa kepercayaan, ketenangan, dan stabilitas sosial.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (abad ke-11) menulis bahwa syukur adalah puncak akhlak, karena di dalamnya terkandung pengakuan atas keterbatasan diri dan kebesaran Tuhan. Pemimpin yang mampu mengucapkan terima kasih sejatinya sedang mengakui bahwa kekuasaan bukan miliknya secara mutlak, melainkan titipan yang harus dijalankan dengan rendah hati.
Nada Religius dalam Tradisi Kepemimpinan
Dalam tradisi Kristen, nilai terima kasih juga menjadi fondasi etika kepemimpinan. Paus Fransiskus (2013) menegaskan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang-orang kecil, karena dari merekalah kehidupan bersama bertumpu. Menurutnya, rasa terima kasih adalah bentuk doa sosial yang paling konkret.
Dalam ajaran Buddha, rasa terima kasih (katannuta) dipandang sebagai kebajikan luhur, tanda bahwa seseorang telah mencapai kebijaksanaan batin. Sementara dalam tradisi Hindu, ungkapan terima kasih merupakan bagian dari dharma, kewajiban moral manusia dalam menjaga harmoni semesta.
Keseluruhan ajaran ini bertemu pada satu titik: terima kasih bukan sekadar kata, melainkan sikap batin. Ia adalah tanda bahwa kekuasaan dijalankan dengan kesadaran spiritual, bukan sekadar otoritas administratif.
Terima Kasih sebagai Etika Kenegaraan
Dalam konteks kenegaraan, ucapan terima kasih memiliki makna strategis. Ia menjadi bahasa moral yang meneguhkan legitimasi kepemimpinan. Negara yang kuat bukan hanya ditopang oleh hukum dan institusi, tetapi juga oleh etika dan kepercayaan.
Sejarah mencatat, pemimpin besar selalu memahami hal ini. Nelson Mandela, dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden Afrika Selatan tahun 1994, secara khusus menyampaikan terima kasih kepada rakyatnya, termasuk mereka yang pernah menjadi lawan. Ia menyadari bahwa rekonsiliasi dan persatuan hanya mungkin tumbuh dari pengakuan dan penghormatan.
Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16, dikenal gemar menulis surat ucapan terima kasih kepada prajurit, staf, bahkan lawan politiknya. Sejarawan Doris Kearns Goodwin (2005) mencatat bahwa Lincoln percaya, penghargaan adalah cara paling manusiawi untuk menjaga persatuan bangsa di tengah perang saudara.
Di Indonesia, nilai ini tercermin kuat dalam pemikiran para pendiri bangsa. Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1964 menyatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa orang lain.” Pernyataan ini menegaskan bahwa penghargaan, yang paling sederhana diwujudkan melalui terima kasih, adalah fondasi kebesaran bangsa.
Mohammad Hatta, dalam catatan pemikirannya tahun 1957, bahkan menolak glorifikasi individu dalam sejarah kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hasil kerja kolektif rakyat. Sikap ini adalah bentuk terima kasih yang tidak diucapkan secara lantang, tetapi tercermin dalam kerendahan hati seorang negarawan.
Terima Kasih dan Modal Sosial Bangsa
Dalam ilmu politik dan administrasi publik, Robert Putnam (1993) menyebut kepercayaan, jaringan sosial, dan norma saling menghargai sebagai modal sosial yang menentukan efektivitas pemerintahan. Ucapan terima kasih yang tulus memperkuat modal sosial tersebut.
Ketika pemimpin mengucapkan terima kasih, ia sedang membangun rasa memiliki. Aparatur merasa dihargai, masyarakat merasa dilibatkan, dan kebijakan pun memperoleh legitimasi moral. Sebaliknya, kekuasaan yang dingin dan abai terhadap penghargaan cenderung melahirkan jarak emosional antara negara dan rakyat.
Di sinilah terima kasih menjadi instrumen kenegaraan yang lembut namun berdampak. Ia tidak tertulis dalam undang-undang, tetapi hidup dalam relasi sosial. Ia tidak memerlukan anggaran, tetapi menghasilkan kepercayaan yang tak ternilai.
Nada Sendu dari Sebuah Pengakuan
Ada kesunyian yang indah ketika seorang pemimpin berhenti sejenak, menundukkan kepala, lalu berkata: terima kasih. Pada saat itu, kekuasaan berubah menjadi amanah. Jabatan menjelma pengabdian.
Ucapan terima kasih mengandung kesadaran akan pengorbanan yang sering tak terlihat. Ada pegawai yang pulang larut, petani yang bekerja dalam senyap, ibu-ibu yang berdoa tanpa pamrih, dan generasi muda yang berharap dalam diam. Dalam satu kalimat sederhana, semua itu diakui.
Mungkin itulah sebabnya terima kasih sering terasa sendu. Karena ia membawa kita pada kesadaran bahwa tidak semua perjuangan berakhir di panggung kehormatan. Namun semua perjuangan layak dihormati.
Menjaga Peradaban dengan Syukur dan Adab
Pada akhirnya, makna sebuah ucapan terima kasih melampaui kata-kata. Ia adalah ekspresi iman, etika, dan kematangan kenegaraan. Di tengah dunia yang semakin keras dan kompetitif, terima kasih adalah cara paling lembut untuk menjaga peradaban.
Bagi pemimpin, terima kasih adalah pengakuan bahwa kekuasaan berasal dari rakyat dan berada dalam pengawasan Tuhan. Bagi masyarakat, ia adalah tanda bahwa jerih payah mereka tidak diabaikan. Dan bagi bangsa, ia adalah pengikat sunyi yang menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Sebagaimana diingatkan Bung Hatta, pembangunan sejati adalah pembangunan manusia. Maka selama manusia dihargai, disapa, dan diucapkan terima kasih, harapan akan bangsa yang bermartabat tidak pernah benar-benar padam.
Referensi• Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7• Abu Dawud. Sunan Abu Dawud• Al-Ghazali. (1105). Ihya Ulumuddin• Bung Karno. (1964). Pidato Kenegaraan 17 Agustus• Hatta, M. (1957). Kumpulan Karangan• Mandela, N. (1994). Inaugural Address• Goodwin, D. K. (2005). Team of Rivals• Putnam, R. (1993). Making Democracy Work• Paus Fransiskus. (2013). Pesan Kepemimpinan Pastoral
Add new comment