"Selamat hari ibu 22 Desember 2025"
Oleh: Dr. JAMILAH
DOSEN UIN STS JAMBI
Di balik setiap anak yang tumbuh percaya diri, berprestasi, dan berkarakter kuat, hampir selalu ada sosok ibu yang bekerja dalam diam. Ia mungkin tidak tampil di panggung kehormatan, tidak tercatat dalam statistik prestasi nasional, namun pengaruhnya meresap jauh ke dalam fondasi kehidupan. Ibu adalah sumber inspirasi dan kekuatan bagi keluarga, masyarakat, bahkan bagi masa depan bangsa.
Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada ungkapan kasih dan simbol seremonial semata. Momentum ini justru menjadi ruang refleksi: betapa besar peran ibu dalam membentuk kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dari rahim ibu lahir generasi penerus bangsa, dan dari tangan ibu pula nilai, etika, dan daya juang pertama kali ditanamkan.
Ibu dan Inspirasi Kehidupan.
Inspirasi dari seorang ibu tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata bijak. Ia hadir dalam keteladanan hidup sehari-hari: kesabaran menghadapi kesulitan ekonomi, ketabahan mengurus keluarga, dan keteguhan dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam banyak keluarga Indonesia, ibu adalah manajer kehidupan—mengatur kebutuhan rumah, mengelola emosi anggota keluarga, sekaligus menjadi tempat pulang bagi segala keluh kesah.
Ketabahan dan kesabaran ibu menjadi pelajaran awal tentang makna perjuangan. Anak belajar tentang tanggung jawab bukan dari teori, tetapi dari melihat ibunya bangun paling pagi dan tidur paling akhir. Dari ibu, anak memahami bahwa cinta sejati sering kali hadir dalam bentuk pengorbanan.
Kasih sayang ibu juga bersifat tanpa syarat. Ia mencintai bukan karena prestasi, melainkan karena ikatan kemanusiaan. Inilah fondasi psikologis yang sangat penting dalam membangun kepercayaan diri anak. Para ahli perkembangan anak menegaskan bahwa kelekatan emosional yang kuat dengan ibu berpengaruh besar terhadap kesehatan mental dan keberhasilan anak di masa depan.
Kekuatan Ibu yang Sering Terlupakan
Sering kali kekuatan ibu direduksi hanya pada peran domestik. Padahal, justru dari ruang domestik itulah peradaban dibangun. Ibu adalah pendidik pertama dan utama. Sebelum anak mengenal guru di sekolah, ibu telah lebih dulu mengajarkan nilai kejujuran, disiplin, empati, dan kerja keras.
Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi relevan. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati dimulai dari keluarga. Rumah adalah sekolah pertama, dan ibu adalah guru pertamanya. Maka, kualitas bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh sejauh mana ibu diberdayakan dan dihargai perannya.
Kekuatan ibu juga tampak dalam kemampuannya.
memberikan motivasi.
Ketika anak gagal, ibu hadir menguatkan. Ketika anak ragu, ibu menjadi sumber keyakinan. Banyak tokoh sukses mengakui bahwa dorongan ibu adalah energi terbesar yang menggerakkan langkah mereka.
Tantangan Ibu di Era Modern.
Namun, peran besar ini tidak hadir tanpa tantangan. Di era modern, ibu menghadapi beban ganda. Di satu sisi, ia dituntut berperan penuh dalam keluarga; di sisi lain, banyak ibu juga harus berkontribusi secara ekonomi. Tantangan ini semakin kompleks dengan hadirnya teknologi digital yang memengaruhi pola asuh dan interaksi dalam keluarga.
Ibu kini harus menjadi pendamping belajar, pengawas penggunaan gawai, sekaligus penjaga kesehatan mental anak di tengah arus informasi yang deras. Tidak jarang, peran ini dijalani tanpa dukungan memadai, baik dari lingkungan kerja maupun kebijakan publik.
Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa investasi pada ibu dan keluarga memberikan dampak jangka panjang yang signifikan bagi pembangunan manusia. Laporan UNICEF menegaskan bahwa kualitas pengasuhan di usia dini sangat menentukan perkembangan kognitif dan sosial anak. Dengan kata lain, mendukung ibu berarti menyiapkan generasi unggul.
Ibu dan Pembangunan Bangsa
Jika pembangunan sering diukur melalui infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, maka peran ibu adalah fondasi yang tidak terlihat tetapi sangat menentukan. Ibu mencetak manusia, bukan sekadar tenaga kerja. Ia membentuk karakter, bukan hanya keterampilan.
Dalam masyarakat yang ingin maju, ibu tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Dukungan negara melalui kebijakan ramah keluarga, akses kesehatan, pendidikan parenting, serta perlindungan sosial bagi ibu menjadi keniscayaan. Menghormati ibu tidak cukup dengan pujian simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak.
Di sinilah pentingnya perubahan cara pandang. Ibu bukan “pekerja domestik tanpa upah”, melainkan arsitek peradaban. Mengabaikan peran ibu sama artinya dengan mengabaikan masa depan bangsa.
Refleksi Hari Ibu: Dari Simbol ke Substansi.
Hari Ibu seharusnya menjadi momen untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa kekuatan bangsa berakar dari keluarga, dan keluarga bertumpu pada peran ibu. Ucapan terima kasih perlu dibarengi dengan komitmen nyata: pembagian peran yang adil dalam keluarga, penghargaan terhadap kerja pengasuhan, serta dukungan sosial yang berkelanjutan.
Ibu telah terlalu lama dituntut untuk kuat tanpa diberi ruang untuk lelah. Padahal, ibu juga manusia yang membutuhkan dukungan emosional dan sosial. Ketika ibu sehat dan bahagia, anak-anak tumbuh lebih optimal, dan masyarakat menjadi lebih resilien.
Penutup.
Ibu adalah sumber inspirasi dan kekuatan yang sesungguhnya. Dari pelukannya lahir keberanian, dari doanya tumbuh harapan, dan dari keteladanannya tercipta karakter bangsa. Dalam setiap anak berprestasi, selalu ada ibu yang setia mendampingi, meski namanya jarang disebut.
Selamat Hari Ibu. Semoga bangsa ini tidak hanya merayakan ibu dengan kata-kata indah, tetapi juga dengan kebijakan dan sikap hidup yang memuliakan perannya. Karena ketika ibu dimuliakan, masa depan bangsa sedang dijaga.
Referensi :
- Ki Hajar Dewantara. Pendidikan dan Kebudayaan.
- UNICEF. Early Childhood Development and Parenting.
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Peran Keluarga dalam Pembangunan SDM.
Add new comment