Harga Gabah di Batanghari Naik, Petani Lebih Memilih Konsumsi Sendiri

Oleh: jambi1
Pada : WIB
Rubrik
Daerah
IST

MUARA BULIAN – Harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Batanghari mengalami tren kenaikan pada Senin (10/2/2025). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga beras di pasaran yang turut mendorong harga gabah di tingkat penggilingan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan (Dinas PPP) Kabupaten Batanghari, harga gabah kini berkisar antara Rp5.000 - Rp6.000 per kilogram di tingkat petani. Sementara itu, di tingkat penggilingan, harga gabah melonjak menjadi Rp6.000 - Rp7.000 per kilogram.

"Harga ini mengalami kenaikan rata-rata sekitar Rp250 per kilogram dibanding sebelumnya, mengikuti tren harga beras yang juga meningkat," jelas Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Dinas PPP, Abdul Latif.

Meskipun harga gabah mengalami kenaikan, Abdul Latif mengungkapkan bahwa mayoritas petani di Batanghari masih lebih memilih menyimpan hasil panen untuk konsumsi sendiri ketimbang menjualnya ke pasar.

“Kebanyakan petani di Kabupaten Batanghari menanam untuk konsumsi sendiri, sehingga tidak semua hasil panen mereka dijual ke pasar atau ke penggilingan," ujarnya.

Beberapa daerah yang dikenal sebagai penghasil gabah utama di Batanghari meliputi:
✔️ Pasar Terusan, Kecamatan Pemayung
✔️ Ture
✔️ Desa Senaning

Namun, Abdul Latif menegaskan bahwa tidak semua petani di wilayah tersebut menjual gabah mereka. Sebagian besar hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mengantisipasi kenaikan harga beras di masa depan.

Kenaikan harga gabah ini membawa dampak yang beragam bagi petani dan industri penggilingan.

🔹 Keuntungan bagi petani
Bagi petani yang menjual hasil panennya, kenaikan harga ini tentu menguntungkan karena mereka bisa mendapatkan margin yang lebih tinggi.

🔹 Tekanan bagi pengusaha penggilingan
Sebaliknya, bagi pelaku usaha penggilingan beras, kenaikan harga gabah bisa menjadi tantangan tersendiri. Jika harga terus naik, pengusaha penggilingan harus menyesuaikan harga jual beras agar tidak mengalami kerugian.

🔹 Dampak bagi konsumen
Jika harga gabah terus naik tanpa adanya keseimbangan di tingkat produksi, hal ini bisa berimbas pada lonjakan harga beras di pasaran, yang akhirnya membebani masyarakat sebagai konsumen akhir.

Pemerintah Kabupaten Batanghari melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan terus memantau perkembangan harga gabah dan beras untuk memastikan stabilitas pangan.

Beberapa langkah yang tengah dipersiapkan untuk mengantisipasi lonjakan harga antara lain:
✔️ Mendorong peningkatan produksi gabah dengan program bantuan benih unggul bagi petani.
✔️ Mengoptimalkan distribusi gabah agar petani bisa menjual hasil panennya dengan harga yang lebih stabil.
✔️ Memantau harga beras di pasaran agar tidak terjadi spekulasi yang merugikan konsumen.

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga agar harga gabah dan beras tetap stabil dan tidak merugikan baik petani maupun konsumen," tandas Abdul Latif.

Dengan adanya kenaikan harga ini, diharapkan keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi dapat tetap terjaga sehingga petani tidak dirugikan dan masyarakat tetap bisa mendapatkan harga beras yang terjangkau. (*)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

BeritaSatu Network