Al Haris Cairkan THR PPPK Paruh Waktu, Ribuan Pegawai Sumringah

Oleh: jambi1
Pada : WIB
Rubrik
Daerah
ist

Di penghujung Ramadan, saat sebagian orang mulai menghitung sisa hari menuju Lebaran, ribuan PPPK paruh waktu di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi justru menerima kabar yang selama ini hanya menjadi harapan: Tunjangan Hari Raya (THR) akhirnya cair.

Pencairan dilakukan Selasa, 17 Maret 2026—hari terakhir sebelum cuti bersama Lebaran. Dana tersebut disalurkan melalui masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Bagi sebagian orang, angka Rp1 juta mungkin tampak kecil. Tapi bagi mereka yang selama ini berada di “lapisan tengah” birokrasi—bukan PNS, bukan pula PPPK penuh waktu—angka itu punya arti yang jauh lebih besar.

Ia adalah pengakuan.

Kebijakan ini telah disetujui oleh Gubernur Jambi, Al Haris. Dan untuk pertama kalinya, PPPK paruh waktu ikut merasakan THR—hak yang selama ini identik dengan PNS dan PPPK penuh waktu.

Jumlahnya tidak sedikit.

Tercatat, ada 6.438 PPPK paruh waktu di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi. Artinya, pemerintah menggelontorkan miliaran rupiah untuk kebijakan ini.

Namun yang lebih penting dari angka itu adalah pesan yang dibawa:
bahwa seluruh pegawai—apa pun statusnya—punya nilai yang sama dalam pelayanan publik.

Firman, salah satu PPPK paruh waktu, tidak menyembunyikan rasa harunya.

“Terima kasih Pak Gubernur Al Haris. Ini sangat berarti bagi kami, apalagi di momen menjelang Lebaran ini,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya ada cerita panjang tentang penantian.

Fitri merasakan hal yang sama. Ia melihat kebijakan ini bukan sekadar bantuan finansial.

“Alhamdulillah, kami merasa diperhatikan,” katanya singkat.

Sementara Sintya melihatnya lebih dalam—sebagai bentuk keadilan yang selama ini dinanti.

“Kami sangat berterima kasih. Ini bukti bahwa pemerintah hadir untuk semua. Selama ini kita hanya melihat PNS terima THR, tahun ini kita juga dapat,” tuturnya.

Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, THR ini bukan hanya soal nominal.

Ia menjelma menjadi simbol—tentang perhatian, tentang kehadiran negara, tentang rasa dihargai.

Di ruang-ruang kantor pemerintahan, di balik meja pelayanan publik, ada ribuan pegawai yang selama ini bekerja tanpa sorotan.

Hari itu, mereka tidak lagi merasa berada di pinggir.

Mereka ikut dihitung.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, mereka benar-benar merasa menjadi bagian utuh dari sistem yang selama ini mereka layani. (*)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

BeritaSatu Network