Sarolangun, Jambi — Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi, masyarakat Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, kembali menghidupkan tradisi turun-temurun bantai kerbau, sebuah warisan budaya yang sarat makna sosial, spiritual, dan kebersamaan.
Tradisi bantai kerbau merupakan kearifan lokal yang telah lama dijaga masyarakat Batang Asai sebagai bentuk gotong royong, penghormatan terhadap adat, serta ungkapan syukur dalam menyambut bulan yang dimuliakan. Kegiatan ini tidak sekadar prosesi penyembelihan hewan, tetapi menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat silaturahmi dan solidaritas warga.
Tokoh masyarakat Batang Asai, Dr. H. Zarkoni, menegaskan bahwa tradisi bantai kerbau memiliki nilai yang sangat dalam dan relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini. Menurutnya, adat dan budaya bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan pedoman hidup yang mengajarkan kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.
“Bantai kerbau ini adalah wujud gotong royong, penghormatan, dan penghargaan terhadap adat. Kita menyambut hari baik dan bulan baik, yaitu bulan suci Ramadhan, dengan hati yang bersih dan penuh kebersamaan,” ujar Dr. H. Zarkoni.
Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai dusun di Batang Asai berkumpul di lokasi kegiatan. Kaum lelaki bergotong royong dalam proses penyembelihan dan pengolahan daging, sementara kaum perempuan berperan dalam persiapan, pembagian, dan pengolahan makanan.
Semua dilakukan secara sukarela, tanpa pamrih, dan tanpa memandang status sosial.
Dr. H. Zarkoni menambahkan bahwa tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang terlibat atau menyaksikan langsung proses bantai kerbau belajar tentang nilai kebersamaan, kerja sama, dan kepedulian sosial yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan modern.
“Kalau adat ini kita jaga, generasi muda akan tumbuh dengan identitas yang kuat. Mereka tahu dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang harus mereka pegang ke depan,” katanya.
Selain sebagai tokoh adat dan masyarakat, Dr. H. Zarkoni juga dikenal sebagai tokoh muda yang memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin Sarolangun di masa mendatang. Kiprahnya dalam menjaga tradisi, membangun komunikasi lintas generasi, serta mendorong pelestarian budaya lokal menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan daerah.
Dalam pandangannya, pelestarian adat dan budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah.
Tradisi bantai kerbau, menurutnya, tidak bertentangan dengan ajaran agama, justru sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi kebersamaan, sedekah, dan persiapan spiritual menjelang Ramadhan.
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Tradisi ini mengajarkan kita untuk berbagi, bersyukur, dan memperkuat persaudaraan sebelum memasuki bulan puasa,” jelasnya.
Kegiatan bantai kerbau berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekeluargaan. Daging kerbau dibagikan secara merata kepada masyarakat untuk kebutuhan menyambut Ramadhan. Suasana kebersamaan dan kehangatan terasa kuat, mencerminkan nilai-nilai luhur yang masih hidup di tengah masyarakat Batang Asai.
Masyarakat berharap tradisi bantai kerbau ini terus dilestarikan dan mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga adat, agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. Tradisi ini dinilai sebagai aset budaya yang memperkuat identitas Sarolangun dan Jambi secara umum.
Di tengah arus modernisasi, tradisi bantai kerbau Batang Asai menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, penghormatan, dan kebersamaan masih terjaga dengan baik. Sebuah warisan budaya yang tidak hanya dikenang, tetapi dijalankan dan dihidupi—sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh makna dan keberkahan.(*)
Add new comment