Jambi – Pemerintah Kota Jambi menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem kewirausahaan generasi muda melalui penguatan koperasi mahasiswa (KOPMA) sebagai ruang belajar kolektif dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha saat menjadi narasumber pada Musyawarah Komunikasi Wilayah (Muskomwil) dan Jumpa KOPMA Akbar Forum Komunikasi Koperasi Mahasiswa Indonesia Badan Perwakilan Wilayah I Sumatera Bagian Pertama (Sumbagtama), Sabtu (17/1/2026).
Kegiatan bertema “Bersinergi Membangun Peradaban Kewirausahaan Menuju BPW I FKKMI Sumbagtama Berkemajuan” itu digelar di Aula BPSDMD Provinsi Jambi dan diikuti pengurus serta anggota koperasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera.
Dalam paparannya, Diza menegaskan koperasi, termasuk KOPMA, tidak boleh berhenti pada kepentingan internal anggota, tetapi harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Esensi berkoperasi bukan hanya untuk diri sendiri. Koperasi harus menjadi alat membangun kesejahteraan bersama. Prinsip ini sudah lama dipikirkan negara melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dan tetap relevan hingga hari ini,” kata Diza.
Ia menilai pemerintah daerah memiliki tanggung jawab menyiapkan ekosistem pendukung agar koperasi mahasiswa dapat tumbuh sebagai inkubator kewirausahaan muda yang berdaya saing.
Menurut Diza, sebagai kota perdagangan dan jasa yang minim sumber daya alam, Kota Jambi menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai strategi utama pembangunan ekonomi.
“Kami mendorong peningkatan kualitas SDM melalui Balai Latihan Kerja Tematik (Balikat) yang memberikan pelatihan kewirausahaan dan keterampilan. Program ini dirancang agar masyarakat, termasuk mahasiswa, memiliki bekal nyata untuk memulai usaha,” jelasnya.
Untuk menopang keberlanjutan usaha, Pemkot Jambi juga menghadirkan program Bantuan Kelompok Usaha Masyarakat (Banharkat).
“Banharkat memberikan akses permodalan dengan bunga rendah, hanya tiga persen per tahun, khusus bagi warga ber-KTP Kota Jambi. Ini bentuk keberpihakan pemerintah agar wirausaha pemula tidak terjebak pada pembiayaan yang memberatkan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jambi, Fadhillah Hasrul, mengingatkan pentingnya kolaborasi dalam dunia usaha, khususnya bagi generasi Z.
Ia mengungkapkan hasil riset yang menunjukkan tingginya minat Gen Z menjadi pengusaha, namun masih dihadapkan pada tingkat kegagalan yang besar.
“Sekitar 66 persen Gen Z memiliki minat berwirausaha, tetapi hanya 1,7 persen yang benar-benar berhasil. Kesenjangan ini menunjukkan pentingnya ekosistem kolektif dan sinergi, bukan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Melalui forum Muskomwil dan Jumpa KOPMA Akbar ini, pemerintah daerah berharap koperasi mahasiswa dapat menjadi ruang belajar kewirausahaan yang kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada dampak sosial, sekaligus melahirkan wirausaha muda yang tangguh dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.(*)
Add new comment