Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi. Rupiah terkoreksi tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.981 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia yang masih berlanjut.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih terus naik,” ujarnya.
Tercatat, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) telah menembus level 103 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang berdampak pada pasokan global.
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, seiring meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.
Selain faktor minyak, sentimen pasar juga dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
“Indeks dolar AS terpantau terus menguat. Investor kini melihat peluang The Fed menahan suku bunga atau bahkan menaikkannya, bukan menurunkannya,” jelas Lukman.
Ia menambahkan, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Kenaikan harga minyak global juga dinilai berpotensi memicu inflasi, yang pada akhirnya mendorong bank sentral di berbagai negara untuk merespons melalui kebijakan suku bunga.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS dalam jangka pendek.
Pelaku pasar diminta mencermati perkembangan global, terutama dinamika harga energi dan kebijakan moneter AS, yang menjadi faktor utama pergerakan nilai tukar rupiah saat ini. (*)
Add new comment